Future Is Today

Nyumput Buni Dinu Ca'ang, Nya'angan Dinu Poek..

Rahasia Dapetin Pasangan Lewat Ilmu Marketing

(inspirasi seorang Repers Alkes)

Buat rekans yang masih menjomblo, atau yang emang sangat ‘menghargai’ kodratnya sebagai pencari pasangan. Mungkin tulisan ini bisa membantu kalian dalam mengeksplorasi ilmu perhubungan antar manusia.

Sebagian besar ilmu ini saya dapatkan dari hasil membaca beberapa buah buku dan beberapa diantaranya adalah hasil langsung yang saya terima dari ‘membaca’ respon rekans saya. Buku-buku yang saya rekomendasikan buat dibaca (ehm… bukan niat promosi nih) diantaranya adalah… buku-bukunya Dale Carnegie, Sun Tzu, dan Joe Vitalle. Beliau-beliau ini yang saya anggap cukup cakap dalam mengelola kata-kata, sehingga merupakan sebuah kelezatan tersendiri saat saya membacanya.

Oke, enough chattingnya yak. Langkah pertama yang mesti rekans kuasai adalah kendalikan egomu. Yah, saya ulangi… kendalikan egomu. Sebab, basic rule-nya ilmu perhubungan manusia adalah ego. Jika rekans ga bisa ngendaliin ego. Silahkan rekans tutup browser ini, dan kembali ke dunia nyata.

Rule #1: Setiap manusia akan merasa sangat senang jika sisi ego mereka tersentuh.
Hal ini bisa rekans sadari atau tidak, ketika sisi ego rekans mulai tersentuh, maka akan menciptakan respon yang berbeda dengan saat sisi ego rekans tidak tersentuh. Misalnya nih: ketika seorang teman rekans memanggil rekans hanya dengan panggilan ‘hei’, ‘kang’, ‘bang’, dll. Rekans akan merasa biasa-biasa saja.
Lain halnya jika teman tersebut memanggil rekans dengan nama kecil / nama asli rekans atau dengan predikat tertentu yang menyenangkan. Misalnya: ‘Eh, neng Mira…’, ‘Eh, cantik kemana aja atuh?’.

Nah, bagaimana kaitannya dengan ilmu marketing? Nah, coba rekans panggil salah seorang prospek rekans dengan nama asli mereka (tanpa predikat gelar). Misalnya rekan mau manggil salah seorang dokter dengan nama asli Dudung, ‘Eh, Dung kamana wae euy?!’. Nah kalo dokter Dudung tersebut sudah merasa nyaman dengan panggilan tersebut sih, mungkin tidak masalah. Tapi kalo kebetulan dokternya sensian?! Jangan harap dapet sales dari dia.
Nah lain responnya jika rekans memanggil mereka dengan, ‘Hallo dokter Dudung, apa kabarnya?’

Ingat: gelar, nama, predikat-predikat yang membanggakan akan menyentuh sisi ego mereka. Gunakan hal-hal tersebut untuk mendapatkan respon positif seperti yang rekans mau.

“Setiap orang akan menyukai ketika hal-hal yang dia sukai, disukai pula oleh orang lain.”


Rule #2: Baca situasi, teliti sebanyak-banyaknya dengan pasti informasi apa yang bisa rekans dapetin dari subyek yang rekans inginkan.
Yap, sebelum rekans bertemu dengan subyek / prospek. Cari dan pahami dulu tentang subyek tersebut sebanyak-banyaknya. Semakin banyak informasi yang rekans dapatkan, semakin mempermudah untuk mengadakan action dan komunikasi dengan subyek tersebut nantinya.

Informasi-informasi penting yang rekans mesti cari diantaranya: informasi mengenai kesenangan dia, kelemahan dia, tempat dimana dia nongkrong, makanan kesukaan dia, tanggal lahir, sohib-sohib terdekat dia dll.

Ini sama kaya ilmu marketing, ketika sebelum ketemu prospek, kita diwajibkan untuk ngebuat list informasi detail tentang prospek tersebut. Khususnya kaya nama, nomer hape, alamat, tanggal lahir, nama bini (lengkap dengan tanggal lahirnya), nama anak-anaknya dll.

“Know your enemy, know the situations, and know yourself. You shall to win the war…” (Sun Tzu)

Rule #3: Bicarakan tentang topik yang dia inginkan, minimalisir topik yang rekans inginkan!
Kuncinya adalah seperti Rule #1: Its all about Ego!
Kalo suatu saat rekans ketemu dengan orang yang terlalu banyak ngomongin tentang dirinya sendiri dan ga ngasih kesempatan rekans buat ngomong / ngerespon balik, kira-kira respon yang muncul di benak rekans seperti apa?
Mungkin bakal seperti ini yah: “Wuih! Banyak bacot banget nih orang…”, “wah abis deh waktu gua dengerin radio butut lagi ngomong”, “wah orang ndeso lagi ngomongin dirinya sendiri nih…” dll.

Yep, seperti itulah manusia, pengennya di dengeriin mulu. Pas gilirannya ngedengerin omongan orang aja, timbul rasa males. Ini yang dinamain egois. So, solusinya adalah, kendalikan ego rekans. Coba berpikir dan berbicara dari sudut pandang orang yang kita ajak bicara.

Dari rule #2: cari informasi tentang subyek yang rekans inginkan, semestinya rule #3 ini tidak akan menjadi masalah. Karena rekans minimal sudah mengetahui apa-apa yang dia senangi. Oya, rekans juga jangan lupa untuk selalu menghindari pembicaraan yang mengungkit sisi kelemahan dia. Kalau rekans sampe nggak sengaja mendiskusikan hal itu, coba rekans tawarkan solusi dari masalah tersebut.

Ini ngingetin saya sama ilmu marketing juga, yaitu listen…listen…and listen… Karena dengan ngebacotin prospek dengan produk-produk kita terus (apalagi dengan curhat tentang kurangnya omzet kita), kita bukannya dapet atensi dari mereka. Kita bisa-bisa gakan pernah dapet kesempatan lagi buat ketemu mereka.

Rule #4: Make them know, and make them remember…
Yap, ini rule selanjutnya. Bikin subyek tersebut mengenal rekans, dan lalu mengingat rekans.
Caranya?
Bikin mereka mengenali rekans dengan melakukan hal-hal sederhana yang jarang sekali dilakukan oleh teman-teman subyek yang lain. Misal dengan panggilan khusus, gaya bersalaman dll. Selanjutnya bikin subyek tersebut mengingat rekans dengan cara selalu melakukan hal tersebut setiap kali rekans bertemu subyek.

Ucapkan kata-kata hipnotis khusus, “halo makin cerah aja nih…”, “ehm, dunia ini tampaknya jadi lebih seru denganmu…”, “pagi sih ujan, tapi denganmu aku jadi tambah semangat…” dll.
Buat sapaan khas rekans saat bertemu subyek. Itu akan bikin mereka inget rekans.

Ehm, …kalo dalam ilmu marketing ini sih namanya… show ‘em we’re different!

Rule #5: Bikin subyek mencari-cari rekans karena subyek emang butuh…
Kuncinya adalah, timbulkan minat / kebutuhan di benak mereka. Jadikan rekans sebagai orang yang spesial di dunia dia (lihat Rule #4). Di dunia marketing ada rumus FAB (Features, Advantages and Benefits). Nah, kita coba aplikasikan di dunia perhubungan ini ya.

Features adalah kelengkapan standar yang dimiliki oleh rekans saat melakukan kontak dengan subyek. Misal rekan adalah seorang cowo. Nah, fiturnya adalah rekans adalah cowo.
Advantages adalah kelebihan-kelebihan yang ada pada diri rekans. Misalnya rekan adalah seorang pekerja keras, tukang jalan-jalan, punya motor dan rumah pribadi.

Nah, yang terakhir dan terpenting adalah Benefits. Benefits adalah manfaat dari semua hal diatas tadi. Misal: Rekans adalah cewe (Features); cantik, supel, punya kerjaan, hobi ketemu orang banyak (Advantages); Benefitsnya adalah gara-gara Rekans cantik dan supel, rekans gakan malu-maluin subyek kalo pas diajak jalan atau ketemu temen-temennya. Selain itu rekans juga punya kerjaan, so gakan terlalu morotin subyek deh (pan udah punya uang sendiri). Terus juga rekans punya hobi ketemu orang banyak juga, nah ini manfaatnya buat subyek rekans gakan grogi atau ga pede pas ketemu sama temen-temen dia.

Kunci dari pengaplikasian FAB ini terletak pada “Benefit apa yang ada dalam diri saya, yang sekiranya bisa ngekLik dan bermanfaat pada subyek? Sehingga subyek sulit untuk menyatakan ‘tidak’ sama saya?”

Olah ukur ini terletak pada kesuksesan rekans pada Rule #2: Knowing the situations. Sehingga rekans bisa mengukur hal-hal yang dimiliki oleh subyek, dan diri rekans sendiri.

Oke, sampe disini dulu deh Rules-nya yah. Coz sebenernya masih banyak rules yang bisa diterapkan pada hubungan antar manusia ini. Afterall menurut saya ini sangat erat kaitan dengan dunia per-marketing-an yang saya geluti selama ini. Mengenai komentar kritik-sarannya sangat saya tunggu.

NB: Saya ingetin sekali lagi aja deh, …supress your ego…

Salam… ;)


Unique visitors to post: 1

Categories: Journal

Switch to our mobile site