Too Complex Mind
Antapani, @myRoom, 27-Aug-2008, 00:05am
Malam ini sejenak melepas lelah kucoba ketikkan beberapa kalimat yang sempat melintas di kepalaku. Coba ungkapkan kejadian hari ini dengan bahasaku sendiri.
Pagi,
Aku sudah ada dalam perjalanan menuju RS. Salamun ketika selintas kalimat menempel erat di otak kecilku. “Berani berbuat, berani disalahkan!”. Usai itu tiba-tiba muncul 2 pertanyaan dari pernyataan tersebut. Pertanyaannya adalah “Salah Berbuat?” atau “Berbuat Salah?”
Heran deh ko ujug-ujug muncul kalimat tersebut beserta peranakannya?! Padahal pagi itu, otakku sudah cukup diruwetkan dengan sesuatu hal yang memang mungkin (sedikit banyak) ada kaitannya dengan pernyataan tersebut.
Setiba di Salamun, aku bertemu dengan kang Omi disana. Kita emang sudah rencana mu ketemu dengan dokter SpBS disana (dr.Isdwirianto, SpBS). Dan usai bertemu dengan beliau, kita sempatin buat ngopi dulu di warkop di seberang RS. I think I need a glass of caffein now. -heheh-?
Nah di warkop itulah terjadi pembicaraan yang santai namun cukup serius untuk disimak. Ada suatu pertanyaan yang saya lontarkan ke beliau (kang Omi), sebuah pertanyaan yang sama dengan yang saya tanyakan ke Dhani kemarin. Yaitu, “benarkah seorang penulis punya kecenderungan untuk menjadi schizophrenic?”
Dan jawaban beliau, “tentu tidak”. Alasan beliau adalah memang seorang penulis bisa mengimajinasikan karakter-karakter yang dia ungkap di tulisan-tulisannya. Namun masih bisa mengontrol alur fikirannya sendiri. Sementara seorang schizophrenic adalah yang tidak bisa membedakan alur fikirannya sendiri dengan realita yang ada. (sebuah gejala awal dari kegilaan). Tapi …hemm sampe skarangpun aku masih bertanya-tanya, benarkah?
Terlepas dari seperti apa jawabannya, namun aku mulai membuka personality paradigm ke beliau. Bahwasanya, entah ini adalah suatu kekurangan aku, kelebihan aku atau malah … penyakit aku? Bahwa jika aku menganalisis sesuatu, selalu sampe ke titik unlimited. (Dhani sez, I’m a ‘too complex’ minded. -heheh- Thanks Dhan).
Sebagai contoh, jika aku melihat segelas kopi. Fikiranku menganalisis hingga ke berapa kira-kira kalori yang terkandung di dalam segelas kopi itu? Atau kira-kira berapa persenkah kadar kopi, susu dan gula yang mesti diset agar menciptakan gradasi warna seperti yang aku lihat saat itu? Bukan hanya ke efek kopi yang bisa membuat cheer up.
Nah seringkali dari hal sedemikian itu, malah membuat orang mengganggap aku ini orangnya ribet dan tidak praktis. Tapi it’s a hard thing to change. Aku tetep aja selalu melihat segala sesuatu tidak hanya dari kadar simple-nya, tapi hingga ke kadar complex-nya. Nah loh!
Singkat cerita, kang Omi akhirnya memberikan suatu pernyataan bahwa segala perjalanan analisisku pada akhirnya nanti akan membawa kembali pada suatu konsep pemikiran dasar (basic concept thought). Kalau dalam cerita analisis segelas kopi tadi adalah … cuma segelas kopi!
Sore,
Usai kelelahanku mengerjakan apa yang telah menjadi tugasku. Aku cuba bertemu Dhani di warnet Kubus Dago. And upload materi baruku kemarin ke webLog-ku.
Usai itu, aku kembali tenggelam dalam diskusi santai tapi serius dengan Dhani. He’s my friend who gave me such enormous paradigm in my life. (Thanks bro’). We talk a Lot of things and thoughts.
Karena perbedaan serta keragaman perspektif tersebut, membuat aku semakin percaya bahwa Alloh SWT memang membuat keragaman tersebut agar kita bisa belajar menerima serta mengakui keunggulan-kekurangan insan lain. Tak hanya secara physically berbeda, mind and thought pun berbeda. Sehingga jiwapun pastinya akan berbeda.
Oya, sorenya aku ketempat Dhani, bareng Wawan (temen Dhani) dan adeku yang kebetulan pengen ikutan nonton film Batman: Dark Knight. Trus usai nonton akhirnya rame deh masing-masing kasi komentar. Dan salah satu komentarku adalah: “Buat film Batman kali ini, gw ngefans banget sama karakternya si Joker! Bener-bener seorang Mind Manipulator!” -hahah-
There… sebuah inspirasi muncul dari kelamnya fikirku. A Mind Manipulator Joker, a criminal who has an ability to mind-manipulate everyone (almost?!) including Batman. Cool!
Hualah, sok araraneh deh aL. Sejatinya itu kan hanya cerita fiksi biasa. Ga perlu di analisis terlalu dalam ah. Cape deh!
YasudLah aku juga sudah capek menganalisis hari ini. Cukup menjadi sebuah catatan inspirasi kecil di hati serta fikirku…
Thanks for reading folks.
Unique visitors to post: 0
