Future Is Today

Nyumput Buni Dinu Ca'ang, Nya'angan Dinu Poek..

Pertemuan

Bismillaah, Assalaamu ‘alaikum wr.wb.,
Antapani, @myRoom, 25-des-2007, 00:27am

Saat ini dalam suasana gelap, aku coba buat kendalikan ego tuk mencoba menikmati rasa yang kini ada. Memenuhi dahaga akan kesesuaianku dengan sang Ingsun.

Beberapa cerita psikososial yang kudapat dari rekanku, sudah cukup membuat kepalaku ini lumayan pening. Namun aku merasa cukup puas dengan menyelami rasa setiap insan yang terendap dalam cerita itu. Kadang dia bisa membuatku tersenyum, menahan tangisan, atau bahkan meluapkan amarahku. Tapi kadang pula banyak cerita yang aku sendiri engga ngerti dimana ujung pangkalnya.

Absurd memang menikmati hal yang selayaknya tak nyata, tapi aku merasakannya nyata. Itulah, aku pun tak mengerti dan tak mencoba mengerti akan ini. Karena sepanjang yang aku tahu, semakin aku mencarinya, semakin aku menemui pertanyaan-pertanyaan. Dan itulah saatnya aku kembalikan lagi pada sang Maha Pemilik Kenyataan, Alloh swt.

Menikmati kenyataan yang semu inilah yang kadang malah justru melahirkan mahakarya gemilang yang dikagumi sepanjang masa. Leonardo da Vinci, Sir Isaac Newton, Johann Sebastian Bach, Mozart, Kahlil Gibran adalah contoh dari tipikal orang-orang yang sangat senang menggauli ketidaknyataan (unreal). Dan -hiks!- sepertinya aku sedang menuju ke arah sana.

Saat aku nyatakan bahwa ada sesuatu yang ‘nyata’, beberapa orang berpikir itu adalah ‘tidak nyata’, dan sisanya ‘tidak tahu’ atau ‘tidak peduli’. Saat aku nyatakan bahwa ada sesuatu yang ‘tidak logis’, beberapa orang berpikir itu adalah ‘logis’, dan sisanya kembali ‘tidak tahu’ atau apatis ‘tidak peduli’. Dengan demikian kesejatian kondisi premis nyata-tidak, tidak logis-logis, hanya berada pada ranah perspektif masing-masing. Kembali aku coba ungkap bahwa, jawaban atas kondisi premis tersebut hanya dimiliki oleh sang Maha Pemilik Rahasia. Yang dalam bahasa kerennya adalah bahwa premis tersebut berada dalam status Ghaib atau di-Ghaib-kan. :D

Kamu pikir aku sekarang berada dalam realita, padahal aku berada dalam fiksi. Kamu kira kesimpulan yang aku dapat merupakan fiksi, tetapi justru merupakan realitas. Itulah yang terjadi sebenarnya, diyakini atau tidak, disadari atau tidak. Kita berada dalam keadaan yang realita, sekaligus fiksi. Dan fiksi namun justru adalah realitas. Dan berpijak dari itu kita harus benar-benar meyakini bahwa kita sepenuhnya dimiliki, diatur, dikendalikan, oleh sebuah kekuatan yang Maha Kuat yaitu Alloh swt.

Seperti halnya kamu, akupun telah mencoba meyakini bahwa aku telah mengatur segalanya sesuai yang aku inginkan. Aku kerja, aku bersosialisasi, aku menikmati rasa dll. Dan seperti halnya kamu, ego-ku yang menyeruak ditengah-tengah peperangan bathin menyuarakan bahwa aku adalah yang terbaik. Tetapi, saat semua ego, semua kenikmatan semu, semua pengaruh ego orang lain, hilang (atau lebih tepatnya menghilang sementara). Aku kembali mempertanyakan, siapa yang mengaturku? Apa aku benar-benar telah mengatur diriku sepenuhnya?

Di tengah kesunyian, aku menyadari bahwa ada ‘sesuatu’. Ada yang Maha Mengatur, yang dengan Maha Kuasanya mengatur diriku -yang untuk selanjutnya membuatku merasa aku mengatur diriku-. Diandaikan dengan proses pembangunan Piramida bersusun olehku. Piramida tersebut berundak-undak, mengerucut hingga paling puncak. Dan setelah Piramida itu selesai kususun, dan aku berbangga hati. Tetapi setelah itu aku menyadari bahwa ada ‘sesuatu yang Maha’ yang memberikan aku kesempatan, kekuatan, ketabahan, keyakinan untuk dapat membuat Piramida itu.

Dan pertanyaannya, Siapa (atau tepatnya Kekuatan Apa) yang telah menciptakan rasa di benakku untuk dapat membuat kalimat ini muncul disini? Dan membuatku mengetikkannya serta menggerakkan hatiku untuk menguploadnya ke Blog-ku?

Juga yang telah menggerakkan hati-fikiran kamu untuk membacanya?

Itulah Alloh swt yang Maha Ghaib, Sang Pemilik Hakikat Ilmu, Sang Maha Pencipta Realita.

Wassalaam.


Unique visitors to post: 0

Categories: Journal

Switch to our mobile site